Yohanes 12:25
“Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal”
Saat hidup di dunia ini seringkali manusia mengejar kesuksesan, keselamatan dan banyak hal yang menguntungkan dirinya sendiri. Seperti misalnya ada sebuah cerita ada dua orang hamba, tuan mereka sangat menyukai tanaman sehingga di depan rumah kedua hamba itu ditanamlah masing-masing sebuah pohon mangga yang besar. Pohon itu setiap hari makin bertumbuh dan akhirnya daun-daunannya banyak yang berjatuhan, hamba yang pertama dengan setia dan mau merelakan waktu dan tenaganya untuk membersihkan daun-daunan tersebut dan membuatnya menjadi pupuk untuk membantu pertumbuhan pohon tersebut. Sedangkan hamba yang kedua merasa sangat terganggu dengan daun-daunan yang mulai terjatuh itu dan akhirnya ia memilih untuk menebang setiap ranting-rantingnya sehingga pohon tersebut gundul.
Saat pulang dari berpergian tuan mereka memeriksa kedua buah pohon yang ia percayakan kepada kedua hambanya, begitu terkejutnya tuan tersebut melihat perbedaan hasil pertumbuhan pohon itu. Tuan tersebut akhirnya menambahkan lagi beban kepada hamba yang pertama untuk membersihkan rumahnya yang besar setiap hari karena ia hendak berpergian jauh. Dengan setia kembali ia memilih untuk tetap membersihkan rumah tuannya meskipun tuannya tidak ada di rumah tersebut untuk melihatnya bekerja, hingga hamba yang ke 2 mengolok hamba itu dan mengatakan “mengapa kau terus membersihkan rumah tersebut padahal tuan kita sedang pergi? Ia pasti tidak akan tahu kalau kau tidak membersihkannya. Marilah duduk bersantai bersamaku”. Meskipun demikian hamba yang pertama tidak mengindahkan ucapan hamba yang kedua itu dan dengan setia melakukan pekerjaannya.
Hingga akhirnya setelah lama pergi tuannya itu kembali dan mengatakan bahwa “karena engaku telah setia dan mau mengorbankan waktu, tenagamu dan tidak memikirkan kepentingan dirimu sendiri maka rumah ini aku berikan kepadamu karena aku hendak pindah ke tempat yang jauh”. Hal ini sama dengan kehidupan kita, ketika kita memilih untuk mementingkan hidup kita sendiri yaitu dalam rangka membuat nyaman diri kita sendiri dan terkadang untuk mencapainya menggunakan cara-cara yang tidak baik hingga menjauhkan hubungan kita dengan Tuhan. Hal ini rupanya berdampak dengan keselamatan kita, karena saat kita berlaku demikian sebenarnya kita justru kehilangan nyawa kita di Surga. Seharusnya kita sebagai anak Allah memilih hidup dengan menerapkan nilai-nilai Firman Allah dalam hidup kita meskipun seringkali itu membuat kita menjadi kurang nyaman, namun bila kita melakukannya sebenarnya kita sedang menyelamatkan nyawa kita di Surga.