Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!
Roma 12:9-21
Perspektif tentang kasih manusia (mengasihi orang yang dekat dengan kita, dsb) dan perspektif Allah memberikan sifat mengasihi kepada manusia untuk mengasihi semua orang, bukan hanya mengasihi orang tertentu saja. berbicara mengenai kasih ini, tidak pernah lepas dari kehidupan kita orang percaya.
Kehidupan orang Kristen harus berbeda dari kehidupan orang dunia.
- Manusia telah mengalami hidup baru (6:4) kematian dan kebangkitan Yesus dikayu salib, manusia tidak lagi tunduk kepada hukum taurat. Tetapi dibawah kasih karunia. (6:14). Sebagai respon dari penerimaan kristus, Paulus mendesak masyarakat roma untuk segera memanifestasikan injil kedalam kehidupan sehari-hari. Apa yang sudah diberikan Allah kepada kita dalam 1-11 harus direspon\ditanggapi dalam 12-15 yakni sebagai bentuk persembahan hidup kita. (salah satunya hidup dalam kasih)
Hal yang perlu kita perhatikan untuk hidup dalam kasih :
- Jangan berpura-pura (tidak munafik) melainkan kita harus tulus (tulus menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI merupakan sungguh dan bersih hati atau benar-benar keluar dari hati yang jujur. Tulus juga diartikan sebagai sikap jujur, tidak berpura-pura, tidak serong, ikhlas.
Rasul Paulus sadar, ternyata ada yang pura-pura. Ia dengan tegas berkata “jangan pura-pura” tetapi harus tulus dan tidak munafik. Ketika kita berusaha untuk memahami dan mengerti apa yang disampaikan Paulus tentang hidup dalam kasih, di sini, tentu lebih mudah dari melaksanakannya. Sebagai orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, kita tidak punya pilihan lain kita harus hidup dalam kasih. Kasih yang pura-pura dan tidak tulus akan membuat kita akan merasakan ketiknyamanan dan membuat kita menjadi pribadi yang berbeda (pribadi yang tidak sesungguhnya). Terkadang kepura-puraan ini seringkali menjadi bagian dari diri kita, pura-pura Bahagia, pura-pura mengasihi, pura-pura mau menolong padahal sesungguhnya itu tidak tulus. Jika hal ini sering terjadi kita akan merasakan capek. Untuk mengindari diri dari kata munafik ini kita harus membiasakan diri untuk berkata jujur dan memiliki kasih.
Jika hidup dalam kemunafikan maka kita akan tidak dipercayai
- Mengasihi seperti keluarga (kasih ibu kepada beta). Ia menggunakan kata Philadelphia yang berarti ikatan kasih yang terjadi di dalam keluarga. Kasih orangtua kepada anak-anaknya, kasih yang muncul dengan sendirinya tanpa dipaksa dan tanpa mengharapkan imbalan. 1 orang ibu bisa menghidupi ¾ anak bahkan lebih tapi ¾ anak bahkan lebih belum tentu bisa menghidupi 1 orang ibu. Contohnya :banyak sekali diluar sana anak yang membuang orang tuanya Ketika mereka sudah berumah tangga bahkan mereka rela menitipkan orang tuanya di panti jompo.
- Mau membantu, usahakanlah, dan memberikan. (tidak perhitungan) =wujud dari kasih itu sendiri ialah membantu.
- Memberkati dan bukan mengutuk (sehingga merasakan kehidupan yang damai) perdamaian dengan semua orang. (sama seperti duri yang semakin kita genggam, sentuh, pegang erat, akan semakin sakit dan akan bisa berdarah. Alangkah baiknya jika kita melepaskan atau membuang duri itu. Sehingga kita tidak merasakan sakit lagi. Meskipun diawalnya sakit tapi kita akan merasakan pemulihan dan kesembuhan, demikian juga dengan hati kita.) Matius 5:44. (perspektif Firman Allah). Memberkati berarti mendoakan mereka dan memberkati juga berbuat baik dan mendoakan mereka (luk 6:27-28)
Jadi memberkati bukan sekedar mengharapkan yang baik, melainkan dengan sungguh-sungguh mendoakan yang baik dan mencari segala cara untuk melakukan kebaikan kepada para penganiaya. Ini adalah ujian kasih yang sebenarnya.
- Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan melainkan mau mengasihi dan mengampuni. (banyak diluar sana balas dendam). Menimbulkan kematian dsb.
Kejahatan akan selalu ada disekitar kita,( bagaimana menyikapi)?karena semuanya tidak akan pernahh selesai.
Kita adalah anak-anak Allah (orang percaya) tidak diajarkan untuk membalas kejahatan melainkan selalu berbuat kebaikan. Selain itu kita juga bukan manusia yang pendendan(dendam bisa menghancurkan kita), sesuai dengan firmannya ini, Dialah yang akan membalas kejahatan. Karena itu adalah hakNya, bukan hak kita. (Ulangan:32:35)
Ayat 21: Paulus menegaskan kembali mengenai kejahatan dan harapan sebagai orang Kristen adalah tidak boleh kalah terhadap kejahatan. Jika tetap kalah atau mengalah, maka dengan membiarkan kejahatan itu masuk kedalam hati dan kembali menguasai hidup, maka ia akan kembali ke kondisi seperti belum menerima kasih karunia Tuhan. Dari hal ini kita dapat belajar Bersama-sama bagaimana hidup dalam kasih. Meskipun kasih manusia terbatas tetapi kasih Tuhan tidak terbatas. Bisa dikatakan kasih Tuhan itu unlimited dan kasih manusia itu limited. Jadi sebagai orang percaya hendaklah kasih itu menjadi pedoman dalam kehidupan kita, dimana kita harus tetap menghidupkan kasih itu. Karena kasih merupakan kunci dalam kehidupan kita. Kasih itu bukan hanya sekedar kata-kata melainkan suatu Tindakan nyata yang di tunjukan kepada orang yang kita kasihi, sama seperti Yesus yang mengashi umat-Nya. Kasih itu tidak mengharapkan imbalan, kasih itu bukan hanya sekedar mengasihi, tetapi ada unsur kehangatan/kesungguhan didalamnya.